Ask me anything
Ini adalah salah satu hal yang beberapa bulan terakhir menjadi kekhawatiran (sekaligus kesedihan) saya. Pemerintah harus serius menanggapinya. Program KB sudah menjadi program nostalgia masa lampau. Banyak orang salah kaprah sebenarnya. Program KB bukanlah program untuk membatasi jumlah anak, sama sekali bukan. Program KB adalah program yang dibuat untuk merencanakan jumlah anak. Direncanakan bagaimana? Direncanakan sesuai dengan keadaan keluarga. Kalau memang keluarganya baru punya penghasilan yang cukup untuk menanggung kehidupan untuk dua anak, maka dua anaklah yang seharusnya direncanakan. Kalau tidak sanggup, maka satu anaklah yang direncanakan. Menanggung kehidupan anak di sini maksudnya bukan hanya biaya saat dia lahir, tetapi termasuk perkiraan biaya membesarkannya hingga dia dewasa muda dan siap hidup mandiri. Tetapi, meskipun berasal dari keluarga super makmur, bukan berarti bisa seenaknya menghasilkan jumlah anak yang hitungannya melebihi satu tangan. Setidaknya dua anak memang cukup, paling maksimal tiga. Kenapa dua anak? Karena itu berarti laju yang stagnan. Anak yang dihasilkan merupakan jumlah yang sama yang akan menggantikan kedua orang tua yang akan meninggal dunia suatu saat nanti. Ironisnya, begitu banyak keluarga yang ekonominya pas-pasan tetapi jumlah anaknya terus bertambah. Seorang ibu hanya difungsikan sebagai pabrik anak saja. Ayolah masyarakat Indonesia, bukalah mata kalian. Jumlah kita ini sudah nomor 3 terbanyak di dunia dan itu bukanlah suatu kebanggaan yang patut disyukuri, melainkan bencana yang seharusnya diwaspadai. Jika begini terus, tinggal nantikanlah derita yang akan muncul di segala bidang beberapa tahun dari sekarang.
PS: Saya begitu mensyukuri terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang memiliki perencanaan yang begitu matang. Alhamdulillah kesejahteraan keluarga saya bisa dibilang semakin meningkat berkat hal tersebut.